HomeHari pertama berlaku, terbit 36 sertifikat FLEGT

Jakarta, 15 November 2016

 


 

 

JAKARTA. Ekspor produk kayu ke negara Uni Eropa kini lebih mudah dengan adanya sertifikasi Forest Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT). Pasalnya, para eksportir tidak perlu melakukan tahap due diligent untuk berhasil masuk ke negara Uni Eropa. Juga, dengan adanya sertifikasi ini menandakan bila produk kayu asal Indonesia berstatus legal.

Sertifikasi ini resmi diberlakukan mulai hari ini (15/11). Untuk pemberangkatan pertama, sudah ada 32 kontainer dari empat perusahaan yaitu PT Korindo Ariabima, PT Kayu Lapis Indonesia, PT Kutai Timber Indonesia, dan PT Mujur Timber yang siap dikirim ke Uni Eropa.

Rofi'i, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, sampai pukul 02.00 WIB Selasa (15/11) sudah ada 36 FLEGT yang telah diterbitkan ke berbagai perusahaan. Sayangnya, dia enggan merinci nama-nama perusahaan tersebut.

Dengan adanya sertifikasi ini, Pemerintah berharap produk kayu dalam negeri dapat diakui di pasar Uni Eropa dan bisa menggenjot nilai ekspor produk kayu ke wilayah Uni Eropa. Pasalnya, sampai saat ini porsi ekspor ke Uni Eropa hanya sekitar 10% dari total ekspor produk kayu global. Tapi, Rofi'i masih enggan menyebutkan target pertumbuhan ekspor ke depan setelah sertifikasi ini.

Sekadar informasi, untuk periode Januari sampai Agustus 2016, nilai ekspor ke Uni Eropa sebesar US$ 708,38 juta. Sedangkan untuk sepanjang tahun 2015, ekspor ke Uni Eropa sebesar US$ 882,23 juta.

Pemerintah berharap dengan adanya pemberlakuan sertifikasi FLEGT khusus Indonesia-Uni Eropa, dapat menular ke negara lainnya sehingga produk kayu Indonesia dapat diakui legalitas dan mudah masuk ke pasar dunia.

Pemerintah menggunakan sistem online agar bisa mencegah kayu ilegal. Sehingga, bila perusahaan yang tidak tercatat maka sertifikasi tidak dapat diterbitkan. Asal tahu saja, satu sertifikat FLEGT ini hanya berlaku untuk satu kali pengiriman.

A.A Malik Sekretaris Jenderal Asosiasi Panel Kayu Indonesia mengaku, sertifikat FLEGT ini merupakan jawaban dari pemerintah untuk membuktikan bila produk kayu berstatus legal. Maklum saja, Pemerintah asing sangat kritis dalam status produk yang masuk ke negaranya.

Kebijakan penggunaan sertifikasi FLEGT untuk masuk ke pasar Uni Eropa disambut baik oleh pengusaha. Yansen Ali Direktur Utama PT Mujur Timber menilai, dengan aturan tersebut menguntungkan bagi para eksportir karena produk telah teruji kualitas serta legalitas dari hulu sampai hilir.

Keuntungan lainnya, perusahaan dapat lebih hemat dalam biaya pengiriman. Yansen mengaku, perusahaan yang dipimpinnya dapat lebih hemat sekitar 5% dari biasanya. Sayangnya, dia enggan menyebutkan total biaya yang dikeluarkan untuk proses pengujian.

Tidak hanya itu saja, harga produk dapat terkerek naik. Yansen mengaku harga jual produk plywood naik sekitar 5%-10% per kubik. Saat ini harga mencapai US$ 500-U$ 600 per kubik.

Tahun depan, perusahaan yang bermarkas di Medan ini menargetkan ekspor dapat naik sekitar 20% -30%. " Tiap bulan kami mengirimkan 40 kontainer," kata Yansen. Target tersebut dianggap realistis mengingat besarnya potensi pasar di luar negeri sebab produk kayu Indonesia masuk dalam kategori produk premium.

 

indopos.co.id – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus memperjuangkan pengakuan sertifikat legalitas kayu (S-LK) yang diterbitkan berdasarkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Adapun sertifikasi tersebut akan diakui sebagai lisensi FLEGT (Forest Law Enforcement, Governance and Trade) oleh Uni Eropa.

Momen ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mendominasi pasar produk kayu tropis untuk diekspor ke pasar Eropa. ”Dengan pengakuan itu, produk kayu Indonesia tak perlu lagi melewati prosedur uji tuntas yang akan memakan waktu dan biaya untuk masuk pasar Eropa,” ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari KLHK Putera Parthama di Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2016 di Jakarta.

Saat ini, Indonesia menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar kayu tropis di Eropa. Sejak Januari 2013-Desember 2015, jumlah ekspor kayu Indonesia ke Uni Eropa pun meningkat. Yakni, mencapai USD 211,9 juta atau 9,23 persen dari total yang mencapai USD 22,5 miliar.

Sebelumnya, pengakuan SLK sebagai lisensi FLEGT sempat terhambat dengan terbitnya Permen Perdagangan No.89 Tahun 2015. Yakni, berkenaan tentang pengecualian produk-produk furnitur dari kewajiban SVLK. ”Padahal ini mampu mengawasi produk kayu dari hulu ke hilir,” tutur Putera.

Pihaknya menyatakan bahwa Permendag tersebut sedang dalam tahap evaluasi, antara KLHK, Kemendag, dan Kementerian Perindustrian. ”Kami terus lakukan komunikasi intensif dan berharap bisa segera direvisi,” tambahnya. (lus/sof)

- See more at: http://www.indopos.co.id/2016/03/saatnya-mebel-ri-kuasai-pasar-eropa.html#sthash.h0x70vlT.dpuf

indopos.co.id – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus memperjuangkan pengakuan sertifikat legalitas kayu (S-LK) yang diterbitkan berdasarkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Adapun sertifikasi tersebut akan diakui sebagai lisensi FLEGT (Forest Law Enforcement, Governance and Trade) oleh Uni Eropa.

Momen ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mendominasi pasar produk kayu tropis untuk diekspor ke pasar Eropa. ”Dengan pengakuan itu, produk kayu Indonesia tak perlu lagi melewati prosedur uji tuntas yang akan memakan waktu dan biaya untuk masuk pasar Eropa,” ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari KLHK Putera Parthama di Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2016 di Jakarta.

Saat ini, Indonesia menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar kayu tropis di Eropa. Sejak Januari 2013-Desember 2015, jumlah ekspor kayu Indonesia ke Uni Eropa pun meningkat. Yakni, mencapai USD 211,9 juta atau 9,23 persen dari total yang mencapai USD 22,5 miliar.

Sebelumnya, pengakuan SLK sebagai lisensi FLEGT sempat terhambat dengan terbitnya Permen Perdagangan No.89 Tahun 2015. Yakni, berkenaan tentang pengecualian produk-produk furnitur dari kewajiban SVLK. ”Padahal ini mampu mengawasi produk kayu dari hulu ke hilir,” tutur Putera.

Pihaknya menyatakan bahwa Permendag tersebut sedang dalam tahap evaluasi, antara KLHK, Kemendag, dan Kementerian Perindustrian. ”Kami terus lakukan komunikasi intensif dan berharap bisa segera direvisi,” tambahnya. (lus/sof)

- See more at: http://www.indopos.co.id/2016/03/saatnya-mebel-ri-kuasai-pasar-eropa.html#sthash.h0x70vlT.dpuf

indopos.co.id – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus memperjuangkan pengakuan sertifikat legalitas kayu (S-LK) yang diterbitkan berdasarkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Adapun sertifikasi tersebut akan diakui sebagai lisensi FLEGT (Forest Law Enforcement, Governance and Trade) oleh Uni Eropa.

Momen ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mendominasi pasar produk kayu tropis untuk diekspor ke pasar Eropa. ”Dengan pengakuan itu, produk kayu Indonesia tak perlu lagi melewati prosedur uji tuntas yang akan memakan waktu dan biaya untuk masuk pasar Eropa,” ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari KLHK Putera Parthama di Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2016 di Jakarta.

Saat ini, Indonesia menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar kayu tropis di Eropa. Sejak Januari 2013-Desember 2015, jumlah ekspor kayu Indonesia ke Uni Eropa pun meningkat. Yakni, mencapai USD 211,9 juta atau 9,23 persen dari total yang mencapai USD 22,5 miliar.

Sebelumnya, pengakuan SLK sebagai lisensi FLEGT sempat terhambat dengan terbitnya Permen Perdagangan No.89 Tahun 2015. Yakni, berkenaan tentang pengecualian produk-produk furnitur dari kewajiban SVLK. ”Padahal ini mampu mengawasi produk kayu dari hulu ke hilir,” tutur Putera.

Pihaknya menyatakan bahwa Permendag tersebut sedang dalam tahap evaluasi, antara KLHK, Kemendag, dan Kementerian Perindustrian. ”Kami terus lakukan komunikasi intensif dan berharap bisa segera direvisi,” tambahnya. (lus/sof)

- See more at: http://www.indopos.co.id/2016/03/saatnya-mebel-ri-kuasai-pasar-eropa.html#sthash.h0x70vlT.dpuf
Sumber : http://industri.kontan.co.id/news/hari-pertama-berlaku-terbit-36-sertifikat-flegt - 15 November 2016
 
 
 
advertising 8